“INVASI TERITORIAL” HABITAT KOMODO

Komodo (varanus komodoensis) merupakan salah satu spesies kadal yang tergolong langka dan merupakan satu-satunya binatang purba yang masih bertahan hingga saat ini dan tercatat sebagai salah satu keajaiban dunia. Ukuran tubuh komodo mencapai panjang 2 sampai 3 meter. Ukuran sebesar ini merupakan efek dari gejala “gigantisme pulau” yakni kecenderungan membesarnya fisik komodo yang diakibatkan tidak adanya karnivora lain selain komodo dalam sebuah pulau yang kecil. Komodo merupakan jenis binatang yang soliter atau memiliki sifat penyendiri kecuali saat musim kawin. Habitat terbesar Komodo berada di Pulau Rinca dan Pulau Padar. Secara ekologi kedua pulau ini mempunyai topografi yang paling cocok dalam mendukung bertumbuh dan berkembangnya spesies ini.

Jumlah Populasi Komodo hingga 2017 mencapai 3012 ekor yang tersebar di pulau komodo, rinca, padar, dan beberapa pulau lain di sekitarnya selain pulau flores. Pulau-pulau ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi berdasarkan Surat keputusan Menteri Kehutanan No.66/Dep Keh/1965 tanggal 21 Oktober mengenai penunjukan Pulau komodo sebagai Suaka Margasatwa serta Surat keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur No.32 tanggal 24 Juni 1969 mengenai penunjukan Pulau Rinca sebagai Suaka Alam. Berdasarkan Peta Zonasi Taman Nasional Komodo terbitan 24 Februari 2015, area pulau rinca merupakan zona inti taman nasional yang mempunyai fungsi utama sebagai habitat perlindungan Komodo (Varanus komodoensis). Zona inti ini memiliki Luas 34.311 Ha dan merupakan Zona yang mutlak dilindungi, didalamnya tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktifitas manusia, kecuali yang berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, dan Penelitian.

Habitat perlindungan komodo merupakan lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya komodo secara alami. Sebagai jenis hewan yang memiliki sifat soliter, komodo cendrung menjauhi keramaian serta membutuhkan ruang isolasi atau zona nyaman yang cukup. Selain itu komodo juga memiliki sifat kanibal dimana induk komodo sering memangsa anaknya sendiri. Satu induk komodo mampu bertelur dan menetaskan telurnya hingga belasan ekor. Secara alamiah setelah menetas anak-anak komodo akan memisahkan diri dari induknya dan mencari zona nyaman mereka masing-masing untuk bertumbuh dan berkembang. Oleh karena itu sangat masuk akal jika Komodo membutuhkan wilayah yang cukup luas untuk tumbuh dan berkembang. Gangguan dalam bentuk apapun terhadap habitat komodo akan sangat mempengaruhi aktivitas dan perkembangan komodo.

Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), komodo tergolong dalam hewan yang rentan punah (wikipedia). Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penurunan populasi komodo adalah sebagai berikut: Berkembangnya tempat wisata (Ketenaran pulau Komodo di mata dunia menarik perhatian turis domestic dan asing untuk berkunjung ke tempat tersebut. OLeh karena itu, dibangun tempat-tempat wisata di pulau Komodo. Hal ini menyebabkan luas habitat komodo semakin berkurang dan mengancam populasi spesies tersebut); Rusaknya habitat (Rusaknya habitat menjadi masalah utama dalam usaha pelestarian spesies komodo. Rusaknya habitat sebagian besar disebabkan oleh kegiatan manusia dan bencana alam. Dengan habitat yang semakin sempit, ruang untuk berkembang, dan bereproduksi menjadi semakin berkurang, akibatnya populasi komodo terancam); Berkurangnya makanan (Berkurangnya makanan berupa kijang, ular, tikus, dan mamalia kecil lainnya merupakan salah satu faktor penurunan populasi spesies komodo).

Rencana pembangunan Rest Area di Pulau Rinca dan Pulau Padar, secara langsung akan mengganggu dan merusak habitat alamiah komodo dan penyempitan wilayah habitatnya. Belum lagi dengan infrastruktur pendukung lainnya seperti akses menuju rest area. Hal ini tentu akan memberikan dampak negatif bagi habitat dan kelangsungan hidup komodo. Sejarah mencatat, bahwa pada tahun 1980 Taman Nasional Komodo didirikan untuk melindungi Komodo dan Habitatnya. Rencana pengelolaan 300 Ha di Pulau padar dan 22,1 Ha di Pulau Rinca menjadi sangat tidak masuk akal karena bagaimana mungkin TNK dari kawasan konservasi kemudian akan berubah menjadi destinasi investasi oleh para pihak investor yang berkepentingan meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Oleh: Yuvensius Stefanus Nonga

(Divisi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil ED WALHI NTT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *