Resiko Pariwisata Tanpa Mekanisme Perlindungan Ekosistem Savana

Selama dekade terakhir ini  Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan hidup  di Propinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT) terus mengalami degradasi (penurunan baik secara kuantitas maupun kualitas). Degradasi lingkungan hidup  yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia serta korporasi  yang tidak dan/atau kurang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup serta minimnya kebijakan perlindungan lingkungan hidup.

Secara geografis Propinsi NTT merupakan daerah yang memiliki potensi ekosistem savana yang cukup luas yaitu sekitar 1.881.210. Distribusi dan luasan savana di Nusa Tenggara Timur yakni Komodo, Flores, Lomblen dan Alor seluas 4.99% luas savana dari luas pulau, Sumba 22.77% dari luas pulau, Timor Barat, Semau dan  Roti 13.3 % dari luas pulau. Namun potensi ini setiap tahunnya terus mengalami degradasi sebagai akibat dari alih fungsi lahan untuk kegiatan pertanian maupun kegiatan pembangunan lainnya, sehingga ekosistem savana sangat rentant dan berpengaruh terhadap variabel lingkungan baik ditinjau dari aspek geofisik-kimia, biologi, sosial ekonomi dan budaya maupun aspek kesehatan masyarakat.

Ekosistem Savana memiliki peran penting dalam kehidupan. Beberapa daerah savana merupakan landscape dominan yang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal subsisten, budaya, serta sebagai habitat satwa termasuk mamalia besar seperti banteng, gajah, jerapah, komodo dan herbivora lainnya. Dengan demikian savana memiliki peran sebagai kolam keanekaragaman hayati (pool of biodiversity).

Savana kerap mengalami kebakaran. Kebakaran di lahan savana ini terjadi baik karena gangguan alami maupun oleh aktivitas manusia. Masih banyak pro dan kontra mengenai kebakaran dan pembakaran lahan baik hutan maupun padang savana di dalam kawasan konservasi. Kebakaran hutan telah banyak dipelajari dan menarik banyak interest sedangkan kebakaran lahan savana masih sangat kurang diketahui. Kebijakan perlindungan ekosistem savana sampai saat ini belum secara tegas diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Di sisi lain sasaran pengembangan pariwisata pada ekosistem savana seringkali juga menimbulkan banyak dampak negatif yang merusak kelestarian ekosistem savana. Tercatat hampir setiap tahun terjadi kebakaran lahan savana. Sebagaimana kebakaran savanna di Pulau Gili Lawa yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Komodo yang terjadi pada Rabu malam, 1 Agustus 2018 pukul 19.30 WITA. Kebakaran ini bukan kali pertama terjadi namun kebakaran yang terjadi di Gili Lawa baru pertama kali dipublikasikan. Hal ini merupakan salah satu contoh tidak ada keseriusan dari pihak pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan mencegah kerusakan ekosistem savana terutama dalam kawasan pariwisata.

Ketidakseriusan dalam mengeluarkan kebijakan perlindungan ekosistem savanna akan berdampak pada rusaknya ekosistem savanna yang merupakan basis keanekaragaman hayati yang bisa menyimpan keanekaragaman hayati yang membentuk jejaring dan rantai kehidupan.  Hal ini mesti dipahami secara benar sehingga kebijakan pembangunan tidak berlangsung secara serampangan atas nama proyek yang lebih mementingkan angka laporan di atas kertas sebagai medium pertanggungjawaban pragmatis minim realisasi tetapi pada saat yang memutus jejaring relasi hayati yang akan berdampak pada hancurnya ekosistem savana kita.

Pemahaman yang mendalam perihal realitas savana NTT sesungguhnya akan membentuk paradigma berpikir di kalangan pemerintah di NTT untuk merancang dan menggagas kebijakan perlindungan ekosistem savanna serta merancang kebijakan pembangunan yang khas  ‘savana’  NTT.

Oleh: Yuvensius Stefanus Nonga

Divisi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil WALHI  Eksekutif Daerah NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *