Zero Emission Day

Hari ini seluruh dunia merayakan Zero Emission Day atau hari bebas emisi. Ini diprakarsai oleh Ken Wallace. Ketika Ken sedang berjalan-jalan dengan bayinya, ia terpapar polusi dari lalu lintas dan kendaraan bermotor kemudian ia berpikir betapa baiknya hal itu berhenti walau hanya sesaat. Kemudian pada 21 maret 2008 Selalevel perusahaan tempat Ken bekerja, meluncurkan sebuah website yang menyerukan 20 september sebagai hari moratorium global konsumsi bahan bakar fosil.Tujuannya untuk memberikan “hari istirahat”dalam setahun bebas emisi. Lalu, apa itu emisi?

Emisi adalah zat energi atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk atau dimasukkan ke dalam udara yang mempunyai atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur pencemar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia emisi adalah pancarancahaya, panas atau elektron dari suatu benda padat atau cair. Berdasarkan peristiwanya, dapat terjadi akibat terganggunya suatu sistem yang melampaui suatu batas energi sehingga terjadi suatu emisi. Jadi dapat disimpulkan bahwa emisi merupakan zat, energi atau komponen yang dihasilkan oleh kegiatan yang berlebihan sehingga terganggunya suatu sistem.

Lalu, Emisi gas buang merupakan sisa hasil pembakaran mesin kendaraan baik itu beroda, perahu atau kapal dan pesawat terbang yang menggunakan bahan bakar, berupa uap air (H2O), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), Nitrogen oksida (Nox), Hidrokarbon (HC).Biasanya emisi gas buang terjadi karena pembakaran yang tidak sempurna dari sistem pembuangan dan pembakaran mesin serta lepasnya partikel-partikel karena kurangnya tercukupinya oksigen dalam proses pembakaran tersebut.Selain zat-zat tersebut, masih ada zat lain seperti oksida belerang (SO2) dan logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (Ar) kromium (Cr), kadmium (Cd) serta benzene (Be) yang terkandung dalam emisi gas buang.

Zat-zat tersebut dapat menyebabkan dampak negatif jika masuk kedalam tubuh manusia maupun bagi lingkungan. Bagi manusia dapat menyebabkan beberapa penyakit dan kelainan dari yang ringan sampai yang berat seperti iritasi mata, pusing, batuk, bercak kulit, penurunan refleks, mengurangi fungsi ginjal, perubahhan kode genetik, mengurangi fungsi reproduksi pria sertamengurangi kadar oksigen dalam darah sehingga terjadinya anemia, hipertensi, asma, gangguan jantung dan paru-paru. Bagi lingkungan dapat menyebabkan perubahan iklim seperti peningkatan suhu, pengasaman lautan, terganggunya pola hujan sehingga meningkatkan resiko banjir dan kekeringan juga kerusakan ekosistim serta kerusakan ozon dan pemanasan global.

Perlu kita tahu bahwa penyebab emisi ada bermacam-macam. Konsumsi energi menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara dan gas alam untuk listrik dan transportasi, alih fungsi hutan dan metode pertanian serta penumpukan dan pembakaran sampah. Di indonesia sendiri penyumbang emisi berasal dari alih fungsi hutan, konsumsi energi, pembakaran gambut, sampah, agrikultur dan industrial. Indonesia masuk dalaam jajaran 10 negara penyumbang emisi terbesar setelah China yang menyumbang 30% dari total emisi, Amerika, Uni Eropa, India dan Rusia.

Selama tahun 2014- 2016 terjadi total emisi sebesar 36 miliar ton per tahun sedangkan pada tahun 2017 total emisi naik mencapai 37 miliar ton per tahun dan diperkirakan akan terus meningkat karena geliat pertumbuhan ekonomi dan industrial.Emisi di Indonesia diperkirakan meningkat dari 201 juta ton pada tahun 2015 menjadi 383 juta ton pada tahun 2024. Ini tentunya sangat menghawatirkan bagi manusia dan lingkungan. Jika kencendeungan emisi saat ini terus berlangsung, banyak terumbu karang yang akan menghilang hanya dalam kurun waktu 20- 40 tahun kedepan. Kita tidak bisa berharap pada hutan yang bisa membantu penyerapan emisi karena rata-rata hilangnya hutan primer di Indonesia mencapai 498 hektare per tahun.

Kemudian apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat untuk mengurangi emisi? Ada beberapa hal yang bisa di lakukan Oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mengurangi emisi yaitu, hemat energi, mematikan alat-alat elektronik ketika tidak di gunakan, menggunakkan perangkat teknologi atau listrik yang hemat energi, karena energi listrik dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas yang hasil pembakarannya bisa menyebabkan emisi, menggunakan sumber daya terbarukan yang ramah lingkungan, mengurangi penggunaan palstik, daur ulang sampah, melakukan servis berkala secara rutin pada kendaraan serta tidak membabat atau merusak hutan untuk dijadikan kebun. Sedangkan pemerintah harus membuat peraturan yang kuat yang lebih pro kepada lingkungan, juga pemerintah harus sering melakukan pemantauan ilmiah terhadap masalah lingkungan.

Emisi menjadi tantangan bagi kelangsungan hidup manusia. Karena itu kiranya pemerintah dan masyarakat serta LSM-LSM harus saling membantu untuk menjaga lingkungan ini. Di peringatan Zero Emission Day ini kita bisa berpartisipasi mengurangi emisi dengan berjalan kaki, bersepeda atau menggunakkan transportasi umum ke tempat kerja, Tidur lebih awal,Atau dari pada menonton tv atau komputer kita bisa mengganti aktivitas kita dengan berkumpul atau berjalan-jalan dengan keluarga. Dengan demikian selain bebas polusi tentunya baik untuk kesehatan kita.

Selamat hari bebas emisi sedunia!

Gerryson F. P. Toudua

Mahasiswa Magang

Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDANA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *