WALHI NTT: SELAMATKAN SABANA NTT

Pada tangal 22 April 2019, kita memperingati hari bumi sedunia yang digagas oleh Gaylord Nelson. Gagasan ini muncul karena perasaan sedih ketika Nelson menyaksikan tumpahnya minyak di pesisir Santa Barbara, California pada tahun 1969. Sejak tahun 1969, Nelson mulai menyuarakan pentingnya umat manusia memiliki kepedulian terhadap bumi sebagai tempat berpijak umat manusia.

Dukungan kepada Nelson terus berdatangan. Puncaknya pada 22 April 1970. Majalah TIME memperkirakan sekitar 20 juta orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam para perusak bumi. 22 April kemudian ditetapkan sebagai ‘’Hari Bumi Sedunia’’ yang dikoordinir oleh Earth Day Network’s, sebuah organisasi nirlaba yang beranggotakan berbagai NGO (Non Govevermental Organization) di seluruh dunia.

Merayakan hari bumi berarti mengusahakan keberlanjutan hidup ekosistem yang hidup di dalamnya, seperti, ekosistem sabana. Di Nusa Tenggara Timur luas ekosistem sabana mencapai 2,3 juta ha (Riwu Kaho: 2005) atau sekitar 22% dari jumlah daratan NTT. Ekosistem sabana penting dijaga kelestariannya sebagai ciri khas NTT. Mengapa Sabana di NTT perlu untuk dilestarikan? Karena manfaatnya dalam menyimpan karbon.

Sabana merupakan suatu lanskap yang unik dan kompleks dimana rerumputan, perdu, semak dan pepohonan secara bersama-sama berada pada kondisi dinamika yang seimbang (Schmidt et al., 2010). Curah hujan yang rendah menyebabkan sabana ditemui sebagai hamparan padang rumput tropis yang luas di permukaan bumi.

Karena memiliki ciri khas yang unik, Sabana menjadi tempat yang sering diincar untuk sekedar menikmati keindahannya atau pun sebagai arena perluasan investasi dengan dalil pengalihfungsian lahan.  Contohnya; Sabana di Taman Nasional Komodo Flores, Tanarara Sumba Timur dan Fulan Fehan di Atambua. Selain itu, Sabana-sabana tersebut sering menjadi latar tempat pembuatan film, pengambilan foto atau video pre wedding. Di balik cerita tentang keindahan Sabana terdapat anggapan keliru mengenai Sabana. Sabana hanya dianggap sebagai lahan tidur atau lahan tidak potensial dalam produksi ekonomis.

Tegakan-tegakan pohon dalam ekosistem sabana menjadikan ekosistem ini juga terlihat sebagai hutan skala mikro. Adapun spesies pepohonan yang mendominasi sabana di NTT antara lain lontar, gewang, kayu putih, huek, cemara gunung, akasia, tamarin dan bidara. Sabana huek, gewang dan lontar memiliki potensi simpanan karbon, terutama Sabana huek (Eucalyptus alba) yang cukup tinggi yaitu; 537,18 ton/ha diikuti oleh lontar sebanyak 45,72 ton/ha (Kurniawan dan Yuniati, 2013). Manfaat Sabana yang diabaikan ini akan melahirkan ancaman terdapat kelestarian Sabana itu sendiri. Anggapan Sabana sebagai padang rumput kosong yang tidak memiliki manfaat menjadi alasan pengalih fungsian Sabana pada investor yang dianggap sebagai sang penyelamat. Contohnya; investasi PT. MSM (anak perusahanan Djarum Grup) yang berinvestasi di Sumba Timur. PT. MSM menggunakan Sabana yang selama ini menjadi tempat memelihara ternak untuk perluasan areal perkebunan tebu.

Investasi yang berdalih mensejahterakan, dalam kenyatannya merupakan bentuk eksploitasi terhadap potensi sumber daya alam dan ekosistem di dalamnya. Bentuk invenstasi jenis ini wajib ditolak, sebab sejatinya membunuh ruang ruang kehidupan masyarakat asli yang sejatinya hidup dari bertani dan beternak.

Daerah pinggiran Kota Kupang pun demikian, padang Sabana di sekitaran Alak kini digunakan untuk pembangunan perumahan dan restoran. Jika berkaca pada estetika sabana semata maka sabana hanya berkontribusi pada kantong-kantong investor. Sabana lontar yang berfungsi sebagai penampung karbon pun tidak mendapat perhatian pemerintah Kota Kupang untuk melindunginya.

Menjamin keberlangsungan hidup Sabana sesuai dengan potensinya berarti menjamin terciptanya harmoni ekosistem yang sejatinya saling mengisi antara alam dunia yang menghidupi dan manusia serta makhluk lain yang hidup di dalamnya.  Dalam momentum hari bumi tahun 2019 ini, WALHI NTT menyuarakan agar sabana sebagai penyimpan karbon, harus tetap dijaga kelestariannya karena memiliki kontribusi dalam hidup manusia. Sabana tidak dapat dipandang sebagai lahan yang tidak memiliki manfaat, karena tanpa dimanfaatkan pun, sabana telah memberikan manfaat dengan caranya sendiri. Selain itu WALHI NTT juga meminta pemerintah agar memperhatikan keberadaan ekosistem-ekosistem unik seperti ekosistem sabana di NTT sehingga tidak ada lagi pembangunan yang mengancam keberlangsungan ekosistem sabana dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem ini.

 

Rima Melani Bilaut

(Divisi Sumber Daya Alam WALHI NTT)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *