100 Hari Menuntut Keadilan Untuk Poro Duka

Pada hari ini yaitu tanggal 03 Agustus 2018, 100 hari kisah pilu ini telah berlalu namun tetap meninggalkan bekas. Meninggalnya almarhum Poro Duka akibat sikap arogansi oknum Polisi Sumba Barat menambah cacatan buruk atas keadialan bagi masyarakat kecil khusnya masyarakat Desa Patiala Bawah, Kecamtan Lamboya, Kabupaten sumba Barat. Masyarakat yang seharusnya dilindungi sebaliknya ditembak mati tanpa kesalahan. Masyarakat yang membutuhkan perlindungan sebaliknya menjadi takut dengan senjata yang diarahkan padanya. Mereka mencintai bangsa ini tanpa syarat tetapi balasannya adalah intimidasi dan tembak mati.

100 hari kematian Poro Duka belum mendapat titik terang dalam proses penyelidikan. Aliansi Solidaritas Untuk Marosi (Lamboya) yang tetap konsisten dalam mengawal kasus memiliki kerinduan untuk bertemu Kapolda karena ingin menyampaikan aspirasinya dan ingin mendengar secara langsung sikap tegas Kapolda dalam penangan kasus ini. Aksi yang dilakukan aliansi di Polda NTT sudah sebanyak tiga kali namun tuntutan  aliansi belum terpenuhi. Maka pada aksi yang ke empat dan juga sebagai peringatan 100 hari atas meninggalnya Poro Duka, aliansi memiliki harapan yang besar  agar dapat bertatap muka dengan Kapolda NTT.

Berdasarkan hasil pertemuan sebelumnya antara Aliansi dengan pihak Polda (yang mewakili Kapolda) pada tanggal 28 Juni 2019 atau 64 hari sejak kasus ini dilaporkan, Polda mengakui bahwa proses penyelidikan masih dalam tahap menunggu hasil uji balistik sehingga belum dapat melanjutkan proses penyelidikan selanjutnya. Senjata yang akan diuji telah dikirim kurang lebih dua minggu sebelum pertemuan itu berlangsung. Setelah pertemuan itu proses penyelidikan juga tidak menunjukan langkah maju sampai dengan genap 100 hari meninggalnya Poro Duka atau 36 hari sejak pertemuan terakhir pada tanggal 28 Juni 2018.

Sebelumya pada tanggal 25 April 2018 kasus ini telah dilaporkan oleh keluarga korban yang didampingi oleh kuasa hukum pada kantor Bantuan Hukum Sumba & SALURA dengan Nomor Laporan Polisi: LP/PID/II/2018/NTT/RES.SB/SEK.LBY dan telah menerima tanda bukti laporan dengan nomor: TBL/II/IV/2018/NTT/ RES.SUMBA BARAT/ SEK. LBY. Penyelidikan oleh Polres Sumba Barat telah berlangsung selama 44 hari dan dari proses itu tidak menghasilkan apapun. Kasus ini kemudian dilimpahkan ke Polda NTT pada tanggal 08 Juni 2018 berdasarkan surat pemberitahuan oleh Polres Sumba Barat dengan nomor : B/174/VI/2018/RESKRIM. Alasan pelimpahan kasus ini pada POLDA NTT adalah demi menjaga netralitas sepanjang proses penyelidikan berlangsung.

Lambatnya penanganan kasus kematian Poro Duka dengan berlindung di balik alasan yang sama membuat kami yang tergabung dalam Aliansi menduga bahwa ada keterlibatan oknum Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur. Jika kasus ini tidak cepat diselesaikan dan apabila ada upaya-upaya untuk menutup kasus ini maka maka semakin kuat dugaan aliansi.

Atas dasar itu kami dari Aliansi Solidaritas Untuk Marosi (Lamboya) yang sudah komitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga selesai menuntut sebagai berikut:

  1. Tindak tegas oknum Penembak Poro Duka.
  2. Hentikan keterlibatan Kepolisian Daerah NTT dalam perampasan Tanah Rakyat yang dilakukan oleh BPN dan Investor/pemodal.

 

Dominikus Karangora

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *